Kabul adalah ibukota Afghanistan, negeri yang terluka karena perang. Tapi di sini aku ga akan cerita panjang lebar tentang Kota Kabul itu. Inilah yang akan aku tulis.

Tadi siang, aku ngurusin pendaftaran buat wisuda. Sesuai petunjuk dari temen, hal yang pertama dilakukan adalah pergi ke Perpustakaan Pusat UI (perpus pusat) buat minta Surat Bebas Pinjam. Menurut cerita dari temen juga, biasanya kalo menjelang wisuda begini emang banyak anak-anak dari seluruh fakultas di UI yang mau diwisuda pada minta surat itu ke perpus pusat. Mendengar kenyataan itu, sebelum pergi ke perpus pusat, sekilas muncul harapan iseng buat ketemu seseorang dari fakultas lain yang menurut dugaanku dia juga lulus semester ini. Yah, ga terlalu berharap sih, lha wong mahasiswa yang mau lulus banyak dan juga kemungkinan untuk datang ke perpus pusat pada waktu yang bersamaan dengan dia juga kecil, mengingat rentang waktu pendaftaran wisuda yang udah lewat beberapa hari dan juga masih ada beberapa hari sebelum ditutup. Tapi apa yang terjadi, kawan? Harapan itu terkabul. Tepatnya ketika aku udah selesai dari urusan di perpus pusat dan berniat hendak meneruskan menyelesaikan urusan pendaftaran di fakultas. Eh, di jalan keluar perpus pusat ketemu deh. Aku lagi jalan keluar, dia hendak masuk. Bertegur sapa, dan ngobrol sebentar sambil jalan berlawanan arah.

Selesai ngurus-ngurus di fakultas (eh belum selesai ding, masih kurang fotonya), pulang lah aku menuju kost. Tapi sebelumnya, mampir dulu ke Masjid UI (MUI) buat sholat Ashar. Selesai sholat, harapan itu muncul lagi sekilas. Dan apa yang terjadi, kawan? Bener, ketemu lagi. Kali ini jalan searah, sama-sama keluar dari MUI, jalan di jalanan sisi danau UI, dan menuju ke arah Pondok Cina. Sempet ngobrol lagi. Tapi di sisi jalan yang berseberangan, aku di sisi kanan jalan, dia di sisi kiri jalan. Kalo saat itu dia ga bareng sama temennya, mungkin aku udah nyeberang buat jalan di sebelahnya, dan ngobrol lebih banyak. Tapi karena dia bareng temennya, jadi ya aku minta izin buat jalan duluan.

Kenapa kok aku sampe berharap ketemu dia? Ga tau juga sebenarnya. Cuma kangen aja, pengen ketemu dia lagi aja. Sebelumnya, baru ketemu dua kali, di masjid kampusnya orang lain dan di perpustakaan fakultasnya (hei, sebuah kebetulan lagi, bukan? Selalu ketemuan di sekitar masjid dan perpustakaan). Yang aku suka dari dirinya, kalo dia lagi berdebat sama temennya, ngotot.

Ya, semoga ntar di wisuda di balairung UI juga ketemu lagi. Seperti yang dia bilang dua kali waktu ketemu di perpus pusat dan di jalan keluar MUI, “Ntar kita wisuda bareng ya, Nizar?”, yang kujawab, “Yup.”